Skip to content
Home » Berita » Cegah Konflik Satwa, Mahasiswa UNSA Hijaukan Bukit Desa Petir Lewat Aksi Berbagi Bibit

Cegah Konflik Satwa, Mahasiswa UNSA Hijaukan Bukit Desa Petir Lewat Aksi Berbagi Bibit

PKM Mahasiswa Program Studi Administrasi Negara, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Surakarta (UNSA)

Cegah Konflik Satwa, Mahasiswa UNSA Hijaukan Bukit Desa Petir Lewat Aksi Berbagi Bibit.


GUNUNGKIDUL – Mahasiswa Program Studi Administrasi Negara, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Surakarta (UNSA) melaksanakan kegiatan Kuliah Lapangan sekaligus Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) di Desa Petir, Rongkop, Gunungkidul. Kegiatan yang berlangsung pada medio Januari 2024 ini menjadi wujud nyata implementasi mata kuliah Antropologi Sosial Budaya

Dibawah bimbingan dosen pengampu, Widyantoro Yuliatmojo, M.Si., kegiatan ini tidak hanya bertujuan untuk observasi akademik, tetapi juga memberikan solusi konkret bagi permasalahan lingkungan yang dihadapi masyarakat setempat.


​Misi Lingkungan: Berbagi Bibit Buah
​Salah satu agenda utama dalam pengabdian ini adalah pembagian bibit tanaman buah kepada warga untuk ditanam di area perbukitan sekitar desa. Aksi ini didasari oleh fenomena sosial dan ekologi di mana sering terjadi gangguan dari kawanan kera yang masuk ke lahan pertanian warga karena kurangnya ketersediaan pangan di habitat aslinya.

“Kami berharap dengan menanam pohon buah di perbukitan, kebutuhan pangan kera dapat terpenuhi di habitat mereka sendiri. Dengan begitu, intensitas kera yang turun ke ladang untuk merusak tanaman petani bisa berkurang,” ujar Widyantoro Yuliatmojo di sela-sela kegiatan. Integrasi Ilmu Antropologi Melalui perspektif Antropologi Sosial Budaya, mahasiswa belajar memahami bagaimana masyarakat Desa Petir berinteraksi dengan lingkungan alamnya. Kuliah lapangan ini memberikan pengalaman langsung kepada mahasiswa untuk: Menganalisis sistem adaptasi budaya masyarakat agraris di lahan kering. Memahami kearifan lokal dalam menjaga ekosistem perbukitan. Mempraktikkan pengabdian yang berbasis pada kebutuhan masyarakat (community-based development).

​Meskipun cuaca di lokasi sempat diguyur hujan, semangat para mahasiswa tidak surut. Dengan mengenakan jas hujan, mereka tetap bahu-membahu bersama warga membawa bibit menuju titik-titik penanaman.

Kegiatan ini diharapkan dapat mempererat hubungan antara akademisi dan masyarakat, sekaligus menjadi langkah awal bagi program konservasi berkelanjutan di wilayah Gunungkidul.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *